Pilpres paling Kejam


Pilpres 2014 mungkin pilpres paling kejam sepanjang pemilu yang kuikuti. “Kejam” karena hanya 2 kandidat dan kemudian terjadi dramatisasi yang berlebihan, setidaknya di media sosial. 

Pilpres kali ini, media sosial menjadi arena pertarungan yang penting. Publik kelas menengah mendapat akses info lebih banyak, sementara kalangan kelas menengah ke bawah lebih sering melihat televisi, obrolan warung kopi tukang sayur dan petuah dari tokoh lingkungan sekitar.

Lembaga survey yang dulu dianggap paling independent pada 2014 tidak lagi dianggap referensi publik, tapi lebih dianggap sebagai tools yang digunakan oleh salah satu kandidat.

Televisi dan koran sekarang mereproduksi konten dari media sosial dan online dan lalu di-framming sesuai dengan arahan pemiliknya. Publik sekarang makin cerdas, siapa menonton stasiun apa lalu mau komentar apa.

Pengamat, rektor atau akademisi juga mirip lembaga survey. Yang muncul melalui stasiun televisi partisan, yang menjilat lidah sendiri dengan gampangnya diendus oleh publik.

Thanks God, dengan teknologi sekarang publik makin mudah mengingat dan melihat perubahan. 

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s