“The third wave” Anis Matta


third waveTerm Third Wave kembali muncul, kali ini oleh Anis Matta, presiden PKS yang gelarnya, Lc –bukan doktor sosiologi, sejarah, wartawan atau futurolog. Anis dikenal penulis buku dan kolom di media yang pembacanya terbatas kelompok muslim kelas menengah perkotaan.

Dulu, term third wave juga dimunculkan oleh futurolog Alvin Toffler, mantan wartawan yang rajin nulis. Toffler membaca sejarah perkembangan masyarakat di negara maju dan memperkirakan apa yang terjadi pada masa-mendatang. Menurut Toffler, gelombang pertama adalah masyarakat pertanian, lalu masyarakat industri dan yang ketiga paska industri. Pada era ketiga ini, bentuk masyarakat (termasuk relasi masyarkat dengan struktur politik ekonomi) dipengaruhi oleh teknologi baru. Ide Toffler diterbitkan pada periode 1970 sampai 1980-an.

Tulisan Third Wave Anis Matta kali ini muncul di Jakarta Post. Beberapa pekan sebelumnya ide gelombang ketiga ini sempat mampir di berbagai kampus. Sepertinya AM sedang keliling kampus untuk berdialog dengan akademisi.

Ini beberapa ringkasan tentang ide AM:

  • AM melakukan pemaknaan sejarah yang menarik ke ranah beyond politik, meskipun dia politisi. Pembacaan sejarah Indonesia sampai dengan era reformasi dengan menggarisbawahi posisi strategis pemuda yang mendominasi kondisi demografi sekarang ini.
  • Menurut AM, era reformasi menyeimbangkan era orde baru dan era orde lama. Era reformasi adalah sintesis yang mana beberapa keseimbangan tercapai:
    • Negara dan Agama. Nilai-nilai islam dapat digunakan pada saat Pancasila menjadi platform terbuka untuk berbagai identitas
    • Kebebasan dan kesejahteraan
    • Demokrasi dan Pembangunan
  • Indonesia sudah melewati negeri yang rawan, dengan sejarah pemberontakan dan konflik dan bersiap menghadapi gelombang sejarah ketiga. Polarisasi politik lama islam vs nasionalis sudah tidak relevant lagi.
  • Sekarang sudah lahir generasi yang “hanya mengalami demokrasi”. Kata AM, ” They perceive democracy as something that is given and not something that is achieved through bloody struggles. Furthermore, for this group, the chaotic state of our political landscape right now could feed into a sense of apathy toward democracy.”
  • Gelombang Ketiga Sejarah Indonesia dipengaruhi oleh generasi baru yang hanya merasakan demokrasi sudah ada. Peran negara harus kembali ke asalnya sebagai organisasi sosial yang menciptakan keteraturan (?) “creater order”.

The 2014 election will not only accommodate the shift in power, but also the incoming shift of this new historical wave. A shift in power is not uncommon in democracy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s