Biofuel dan busung lapar


Banyak orang masih berharap kepada biofuel, terutama pada saat harga minyak bumi terus meroket. Karena biofuel termasuk renewable, maka menggunakan jenis bahan bakar ini kita tidak perlu khawatir akan kehabisan.

Benarkah demikian? Sesungguhnya masih banyak kalangan yang khawatir dengan booming biofuel. Mereka yang khawatir setidaknya berasal dari dua kelompok.

Pertama, kelompok konservasi hutan dan hidupan liar. Kelompok ini melihat, permintaan dunia akan biofuel akan meningkatkan tekanan kepada kawasan hutan yang menjadi habitat berbagai flora dan fauna penting. Ini tidak mengada-ada, Indonesia adalah bukti otentik, terutama jika kita melihat ekspansi kelapa sawit beberapa tahun lalu dan sekarang. Tidak hanya hutan di tanah mineral, lahan gambut yang mengikat karbon dalam jumlah besarpun banyak disulap menjadi kebun sawit.

Kedua, kelompok pertanian tanaman pangan. Mereka memahami bagaimana jumlah penduduk yang terus meningkat berarti meningkatkan pula jumlah makanan yang harus disediakan. Produksi beras, jagung, sereal dan lain-lain harus mampu mengimbangi populasi manusia yang diperkirakan akan mencapai 10 milyar pada 2050. Sedihnya, beberapa komoditas tanaman pangan ternyata juga bahan yang bagus untuk dibuat biofuel.

Kedua kelompok tersebut saat ini menghadapi para pelaku pasar yang ingin mengambil keuntungan dari terbukanya pasar biofuel yang semakin menarik karena beberapa situasi. Misalnya, situasi keamanan di Timur tengah—sumber sebagian besar minyak bumi dunia—yang membuat harga minyak terus meningkat.

Kesadaran masyarakat dunia tentang pemanasan global yang semakin baik ternyata dimanfaatkan untuk menciptakan kesan biofuel lebih ramah lingkungan. Mereka juga menutup mata (kalau tidak menutup-nutupi) hubungan permintaan dunia biofuel dari negara maju dengan naiknya harga-harga kebutuhan pangan.

Harga minyak goreng dan kedelai yang naik di awal tahun ini baru gejala permulaan robeknya keamanan pangan di negara berkembang. Bisa jadi, akan makin sedikit orang miskin mendapatan pangan yang memadai dan semakin banyak busung-busung lapar menghampiri kita!~

One response to “Biofuel dan busung lapar

  1. Yup, oleh karena itu diperlukan sumber bahan mentah biofuel lain yang bukan dari bahan pangan ataupun kelapa sawit🙂 Sebenarnya masih banyak bahan berlignoselulosa non kayu yang bisa dijadikan biofuel, asal penelitiannya dilakukan kontinyu dan mendalam sehingga tidak buang waktu & biaya. Saat ini Amerika sudah memproduksi bioetanol dari switchgrass (kalo dari gambarnya seperti ilalang-rumput yang tinggi-). Semoga peneliti Indonesia mampu menemukan biofuel yang terjamin ketersediaannya di masa depan & of course, renewable.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s