Hura-hura


Sore itu adzan magrib baru saja berkumandang dari sebuah masjid di perumahan pinggiran Jakarta. Sekitar lima belas meter dari masjid itu, terdengar suara canda tawa sekumpulan mahasiswa dari sebuah rumah yang pintu depannya terbuka sehingga tampak di dalamnya sedang diadakan pesta. Mereka sedang asyik berfoto di belakang kue tart besar. Di atasnya balon berwarna warni dengan rumbai kertas serupa memanjang ke setiap pojoknya. Dinding ruangan itu semuanya ditutup dengan kain krem sehingga menutup pintu-pintu kamarnya. Ada musik yang terdengar dari rumah itu. Musik riang gembira.

Menariknya, rumah itu adalah sebuah markas gerakan mahasiswa setingkat kota. Bendera hijau masih berkibar gagah di halaman ketika pesta itu berlangsung. Plang-nya masih menempel di samping pintu depan.

Saya jadi ingat ketika bertemu seorang aktivis dalam sebuah perjalanan dari Jogja. Dia sekarang menjadi pengurus sebuah organisasi di tingkat nasional, dan dulunya adalah penggerak penting organisasinya selama masih kuliah, sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu. Jadi sewaktu reformasi masih hangat.

Dia mengungkapkan tentang kesulitan-kesulitan yang dialami organisasinya saat ini. Salah satu kesulitan itu, mahasiswa sekarang ternyata makin hedon. Boro-boro memikirkan agenda reformasi atau kesulitan rakyat kecil, banyak mahasiswa sekarang yang cenderung memilih hura-hura dan pragmatis. Organisasi pun kemudian mengalami kendala berarti dalam kegiatan perekrutan. Metode perekrutan jaman reformasi, katanya, sudah perlu diganti dan disesuaikan dengan tipe mahasiswa kebanyakan sekarang.

Ah, jangan-jangan pesta di markas itu adalah salah satu metode perekrutan terbaru?

Tapi saya ragu. Kegiatan perekrutan seperti itu tentu tidak sejalan dengan ideologi gerakan yang mengajarkan kesalehan individu dan sosial. Ideologi mereka tidak mengajarkan untuk lalai terhadap panggilan Tuhan, apalagi hura-hura.

Saya jadi rindu dengan seorang teman lama. Dia pernah berjanji tidak akan menginjakkan kakinya di mall –simbol hedonisme dan kapitalisasi modal –sebelum Soeharto jatuh. Dimana ya dia sekarang? Ah, pasti bukan di kerumunan pesta itu.~

2 responses to “Hura-hura

  1. Solis Doyle, is dispensable, she has served her purpose to help us win the latino vote in the big states. We no longer need her or the latino vote to capture the white house. The women vote will now carry the Hillary campaign the rest of the way. Democratic Sen. Hillary Rodham Clinton replaced campaign manager Patti Solis Doyle with longtime aide Maggie Williams on Sunday. Ms. Clinton believes Maggie Williams is a better choice to target the women vote. Clinton said in a statement. “I am lucky to have Maggie on board and I know she will lead our campaign with great skill towards the nomination.”

  2. Pingback: A recap of feb article: Cigarette « Catatan Kecil·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s