Menunggu nasib dalam bisnis


Saya mempunyai teman yang bekerja di sebuah departemen. Dia keluarga muda yang baru dikaruniai seorang buah hati yang lucu dan sehat (mudah-mudahan menjadi anak yang berbakti dan sholeh ya). Saya melihat pasangan keluarga seperti sedang menghadapi perubahan ritme harian dan banyak pengeluaran.

Oleh karena itu, saya menawarkan kepadanya untuk bermitra dan bersama-sama ikut bisnis direct selling ini. Saya katakan kalau saya baru mulai menjalankan bisnis ini (fresh beberapa hari gitu loh) dan tidak ada salahnya kalau dia ikut jalan bersama-sama. Karena kita memiliki persamaan, yakni masih bekerja di kantor dan memiliki waktu luang yang hampir sama di akhir pekan.

Untuk hal ini, tampaknya dia sepakat mencari tambahan penghasilan. Tapi untuk bisnis ‘real’ dan bukan semacam MLM atau pemasaran berjenjang lainnya.

Ok, saya senang mendengarnya (at least ada ide yang sama). Kemudian saya menanyakan impian-impian dia yang belum dia miliki. Misalnya, rumah, mobil biar anak tidak kehujanan dan pendidikan anak. Tiga impian itu ternyata membutuhkan dana setengah milyar lebih. Lalu, saya tunjukan simulasi bila dia hanya bisa menabung sekitar 1 juta per bulan, maka dibutuhkan waktu hampir 60 tahun. Saya tahu, hitungan ini sangat sederhana, dan mungkin sedikit optimis bagi dia.

Dia kemudian memberikan jawaban tidak langsung dengan menceritakan kisah seorang nabi yang meminta semua rizkinya dikumpulkan, dan ternyata hanya cukup untuk (menghidupi) seekor ikan paus. Temanku seperti ingin mengatakan kalau yang memberi rizki itu hanya Allah SWT.

Ok, lagi-lagi saya sepakat. Rizki itu Allah yang memberi, dan tugas manusia hanya merencanakan baik dalam pendapatan maupun pengeluaran. Selebihnya Allah yang mengatur. Saat itu, saya berfikir kalau nasib rizki itu memang sudah ada yang mengatur, tapi manusia tetap harus berusaha mencari rizki. Oleh karena itu, simulasi kebutuhan itu, saya katakan kepadanya, kalau hanya sekadar gambaran seberapa jauh ikhtiar yang harus kita lakukan.

Saya melihat masih ada keraguan dan (maaf) rasa enggan untuk berusaha lebih. Apakah karena tipikal pegawai seperti itu? Esoknya saya membuka bukunya Schwartz dan menemukan beberapa dalih yang menyebabkan kegagalan. Salah satunya adalah dalih nasib. Schwartz menceritakan kisah John, seorang wiraniaga yang baru saja mendapatkan pesanan sangat banyak, dan melihat itu rekan John kemudian berkomentar kalau John sedang bernasib baik. Apa yang tidak diketahui oleh rekan John adalah John telah menggarap konsumennya selama berbulan-bulan, berbicara dengan puluhan orang, berkonsultasi dengan para insinyur dan bekerja lebih keras sehingga mengurangi jam tidurnya.

Schwartz juga menggambarkan bagaimana cara kerja nasib dalam mere-organisasi suatu perusahaan dagang. Semua nama-nama karyawan dimasukan ke dalam tong. Dan nama yang pertama keluar akan menjadi direktur pengelola, kedua wakilnya dan seterusnya menjadi pesuruh kantor.

Itulah caranya nasib bekerja. Bila itu diterapkan, maka semua perusahaan di dunia ini akan berantakan.

Schwartz lalu memberikan dua cara mengatasi dalih tersebut. Yang pertama adalah menerima hukum sebab akibat. Nasib baik merupakan kombinasi dari persiapan, perencanaan dan pikiran penghasil sukses yang mengawali “keberuntungannya”. Katanya, tuan keberhasilan menerima suatu kemunduran; ia belajar dan mendapatkan keuntungan. Sementara ketika tuan kegagalan kalah, ia lalai untuk belajar.

Kedua, jangan menjadi orang yang suka berangan-angan kosong. Keberhasilan datang dari pelaksanaan hal-hal dan penguasaan prinsip yang menghasilkan keberhasilan. Berkonsentrasilah pada pengembangan kualitas di dalam diri Anda yang akan menjadikan Anda sebagai seorang pemenenang.~

One response to “Menunggu nasib dalam bisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s