Karbon, Biofuel dan Deforestasi


Pilihan mengembangkan biofuel di Indonesia di masa mendatang masih menjadi perdebatan. Dimanakah perdebatan itu terjadi?

Pertama, menggunakan biofuel untuk menggantikan bahan bakar fossil memang akan mengurangi emisi karbon. Padahal, produksi bahan untuk menjadi biofuel berkorelasi dengan deforestasi yang mengemisikan karbon.

Temuan ilimiah mengindikasikan bahwa jumlah karbon di perkebunan kelapa sawit dewasa jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan yang tersimpan di hutan (ASB Climate Change Working Group 1999). Selain itu, jumlah karbon yang bisa diserap dengan penghutanan pada luas area yang sama, jumlahnya 2 sampai 9 kali lebih banyak daripada jumlah karbon yang bisa dihindari dengan menggunakan biofuel, pada periode selama 30 tahun. (Science Vol 317 Agustus 2007)

Kedua tentang biofuel itu sendiri. Di sini, biofuel yang relevan di Indonesia adalah biodiesel dari kelapa sawit. Indonesia memproduksi CPO hampir menyamai Malaysia yang menduduki nomor satu di dunia. Dari sekian juta ton CPO yang diproduksi, kebanyakan dibuat untuk bahan-bahan makanan (edible) sampai kosmetik. Untuk produksi biodiesel jumlahnya sangat sedikit.

Fakta yang menarik, pada tahun 1967 produksi CPO Indonesia hanya sekitar 167 ribu ton, dan pada tahun 2005 ternyata sudah melonjak 11 juta ton . Sebagian besar dari produksi itu diekspor (Statistik Perkebunan Deptan, 2006). Beberapa lembaga penelitan sebenarnya sudah bisa membuat mesin produksi biodiesel, meski dalam skala yang belum begitu besar dan Pertamina sudah mulai menjual biosolar, solar yang dicampur dengan biofuel dengan perbandingan tertentu. Hanya saja, apakah Indonesia benar-benar berkeinginan mengganti sebagian konsumsi bahan bakar fosil dengan biodiesel buatan dalam negeri?

Ketiga tentang deforestasi : Dimanakah sebenarnya terjadi deforestasi? Apabila itu terjadi di hutan konversi, apakah kita kita menyebutnya sebagai deforestasi? Bukankah itu kawasan hutan yang sudah dicadangkan untuk dikonversi? Bagaimana jika terjadi di hutan produksi yang ditinggalkan pengelolanya? Bagaimana jika hutan konversi dijadikan perkebunan kelapa sawit secara legal? Faktanya, deforestasi dimanapun berarti pengurangan fungsi ekosistem hutan. Tetap ada dampak ekologis dan social bagi penghidupan masyarakat sekitar. Namun, menggunakan istilah deforestasi secara tepat akan lebih baik dalam koteks diskusi yang konstruktif ini.~

4 responses to “Karbon, Biofuel dan Deforestasi

  1. Deforestasi yang dimaksud udah jelas adalah pengurangan jumlah daerah yang berhutan yang bisa nangkepin CO2 yang udah kebanyakan berkeliaran di langit sana dan bikin dunia tambah panas.

    Alternative selain minyak dari fossil URGENT untuk dicari karena stocknya dah semakin menipis sekarang, sementara demand (terutama dari automotive) semakin meningkat dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk.

    Harusnya ga ada masalah dengan pengembangan biofuel pake kelapa sawit kalo kelapa sawitnya ditanam di daerah yang tidak mengganggu proporsi jumlah hutan dunia. Tinggal bikin ajah sertifikasinya kan😉.

    Masalah utama dengan perdebatan ini karena belum adanya mekanisme tentang ini yang disepakati oleh semua pihak yang terkait.

    Jadi, BIOFUEL?… why not…

  2. bahan baku biofuel bukan hanya dari kelapa sawit saja kan…ada jagung, tetes tebu, jarak pagar, singkong dll. yang penting ada karbonnya lah, bahkan dari kotoran hewan pun jadi. masalah lain muncul adanya tarik ulur antara kebutuhan pangan dan energi. misal, harga singkong akan naik bila hasil panennya sebagian ditarik untuk kebutuhan energi, jelas mengganggu produsen kripik.

    cuma, semua permasalahan BBN, tidak sesuram masalah minyak bumi. setidaknya dengan BBN didapat beberapa keuntungan antara lain:
    1. mengurangi subsidi
    2. ramah lingkungan
    3. mengurangi ketergantungan terhadap BBM
    4. menghidupkan lahan kritis untuk budidaya jarak pagar
    5. pasokan yang tidak akan pernah habis
    6. menyediakan lapangan pekerjaan

    semua masalah BBN seharusnya bisa diatur oleh aturan main pemerintah. mulai dari hulu sampai hilir dan mulai dari aturan harga bahan baku sampai produk.

  3. di tengah riuhnya perdebatan tentang energi terbarukan akibat krisis minyak dunia, para ahli dunia sudah memberi warning mengenai krisis pangan akibat penanaman tanaman biofuel.
    Selain tanaman, kan masih banyak sumber energi lain yang terbarukan seperti angin, air, dan biogas. LIPI bahkan sudah meneliti penggunaan kotoran manusia untuk listrik, dan berhasil.
    Nggak ada salahnya, bikin studi kelayakan finansial produksi gas atau listrik pada skala komunitas agar produksi listrik tak melulu didominasi PLN atau gas tak melulu didominasi PGN.

  4. Pingback: Hore, Indonesia siap menurunkan emisi karbon 26% « Catatan Kecil·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s