Visi Indonesia 2030 & Duren Petruk


Bro & sist, beberapa hari belakangan, jalan yang biasa kulewati menuju kantor tampak pemandangan yang baru. Mulai banyak pedagang yang memajang barang dagangannya di pinggir jalan. Mereka ada yang menjajakan stiker, es sampai buah-buahan.Sepintas tidak ada yang menonjol sampai kemudian kulihat seorang pedagang yang menurunkan dari mobilnya puluhan kardus yang berwarna coklat. Si pedagang membuka kardus tersebut, dan nah…ternyata isinya duren!

Wah, buah import yang mahal itu sekarang bisa ditemukan di luar toko swalayan. Hmm..kenapa ya si pedagang tidak menjual duren lokal, duren petruk yang dari Jepara itu?

Suatu ketika, iseng kutanya seorang pedagang es duren yang mangkal di depan BNI kampus IPB Darmaga tentang durian apa yang ia pakai, padahal waktu itu bukan musimnya. Ia bilang durian dari Thailand.

Waduh, es duriannya memang enak. Tapi, bagaimana durian itu lebih disukai para pedagang kecil, membanjiri pasar-pasar tradisional rasanya ada yang aneh.

Bukankah Indonesia banyak pohon durian? Di Sumatera? di Jawa? Di Serang, Banten bahkan ada kebun durian yang buahnya memiliki rasa seperti nano-nano. Durian yang dihasilkan di hutan alam atau kebun campur di Sumatera katanya juga ga kalah enak.

Bagaimana kita melihat fenomena buah durian ini dalam bidang kita? Dalam konteks yang lebih luas, durian dan buah-buahan impot lainnya adalah resultan dari berbagai kebijakan pertanian nasional dan batas pasar global yang semakin tipis.

Produk-produk pertanian dan kehutanan Indonesia, termasuk produk olahan, nampaknya harus terus ditingkatkan sehingga mencapai kualitas yang bisa diserap pasar internasional. Durian Indonesia rasanya memang enak, tapi mencari durian itu setiap saat ada dan ada dimana-mana adalah tantangan bagi pakar budidaya tanaman.

Peran lembaga riset dan institusi pendidikan pertanian dan kehutanan dalam menghadapi tantangan Indonesia ke depan adalah sangat penting. Indonesia adalah negara agraris yang tanah-tanahnya sangat subur. Sumberdaya terbarukan sangat cocok untuk wilayah seperti Indonesia sebagai penghasil pangan, energi dan tentu saja keseimbangan iklim.

Sebagai gambaran, sekitar 49% angkatan kerja juga bekerja di bidang pertanian. Menariknya, kontribusi sektor agraris Indonesia terhadap PDB telah turun dari 34% pada 1970 menjadi sekitar 15% saja di 2005.

Dimanakah posisi kita dalam tigapuluh tahun mendatang? Apabila kita tidak segera beranjak dalam memperbaiki kualitas produksi hasil pertanian dan kehutanan, bisa jadi penduduk miskin kita yang 60%-nya adalah petani itu akan terus bertambah.

Hari ini kita masih bisa memilih untuk makan beras vietnam, naik mobil bikinan jerman , makan durian thailand, daging sapi australia, jus apel washington, celana jeans dari US dan pemotong kuku dari cina. Beberapa tahun mendatang, mungkin kita tidak punya pilihan lain selain barang-barang import semua.

Apa yang digambarkan dalam Visi Indonesia 2030 tentu lebih baik dari sekarang bukan?~

2 responses to “Visi Indonesia 2030 & Duren Petruk

  1. Orang indonesia pada kelaparan gengsi,kalo ga luar negeri ga bonafide,padahal mikirnya masi katrok.duren monthong =bibit durian indonesia yg dicuri thailand u/ kemudian disilang o/ mereka.kemudian dinamakan monthong(thai=bantal emas).tidak jadi masalah buat yang berduit,tapi bencana bagi petani durian khususnya.makan aja gengsinya,jangan durennya

    • @fendi: begitulah, di beberapa bidang, indonesia masih sangat lemah untuk menambah daya saing produknya. Padahal potensi dan sumberdaya sangat melimpah di negeri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s