Diam yang ramai


Ternyata ada diam yang ramai. Istilah ini kutemukan di acara refleksinya Prie GS tadi pagi. Pada waktu itu ia berkisah tentang kebiasaan mengunjungi bapaknya setiap hari Sabtu.Hari Sabtu ia keramatkan dan ia khususkan untuk urusan keluarga. Beserta istri dan anaknya, ia mengunjungi bapaknya yang mantan pemain ketoprak. Baginya, keberadaan bapaknya adalah satu-satunya kekayaan yang paling berharga yang masih ada.

Ia tidak tahu sampai kapan bisa menemui bapaknya lagi. Pada jam biasanya Prie GS dan keluarganya akan datang, bapaknya sudah menunggu di salah satu sudut rumahnya. Ia sampai hapal derip rem kendaraan yang dibawa oleh Prie GS.

Ketika bertemu, Prie GS dan bapaknya tidak banyak bercakap. Kata Prie GS, meskipun diam, di dalamnya ada keramaian bahagia bertemu dengan anak, cucunya. Tidak perlu banyak kata-kata untuk membahagiakan orang tua. Pada diam itu merupakan kondisi optimum dari kebahagian.

Bapaknya lebih bahagia lagi ketika disinggung tentang kejayaannya menjadi pemain ketoprak. Gurat-gurat masa mudanya kembali muncul.

Ah, Prie GS memang luar biasa. Tidak di radio atau televisi sama saja. Jadi pengin mudik nih..~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s