Cerita tentang Kemiripan


Nama film-nya Zathura. Film lama, dan pasti sudah dibahas oleh banyak orang di koran. Iya, filmnya memang mirip benar dengan Jumanji. Keduanya sama-sama bercerita tentang permainan yang biasa kita kenal dengan ‘ular tangga’. Inti permainan itu adalah perjalanan yang dihadapkan pada banyak situasi-situasi yang mengejutkan, menyenangkan atau sebaliknya. Perjalanan akan terus maju, selangkah atau beberapa langkah sekaligus, sesuai dengan jumlah angka yang keluar dari dadu atau mesin pemutar. Jika tidak mujur, perjalanan akan mundur atau kembali beberapa langkah.

Cerita tentang mirip-mirip, jadi ingat surat pembaca di Kompas beberapa hari lalu. Si pengirim bercerita tentang donat domestik yang tampilannya mirip dengan produk donat di luar negeri. Donat domestik itu katanya memang lagi terkenal dimana-mana karena rasanya tidak terlalu manis. Tapi, maaf, sepertinya terlalu belebihan deh kalau disebut sebagai donat domestik. Iklannya saja selalu pake bahasa inggris.

Oia, tentang donat itu, ternyata banyak orang yang masih suka antri lo di outletnya. Apalagi kalau donatnya dibawa pulang, naik angkot pula. Mm..pasti akan lebih meningkatkan rating di mata tetangga. Hehe..gimana kalau kita beli kotak bungkusnya saja trus kita isi dengan gorengan yang 400 perak itu. Wuih…sudah keren, enak pula!

Seorang temen yang penasaran dengan donat itu mengeluh. Katanya, ia tak menemukan logo ‘halal’ di kotak pembungkus donat tersebut. Dicari di bagian atas, bawah atau dalam sekalipun tidak ada. Ah, jangan-jangan logo halal-nya sengaja ditaruh di dalam donat tersebut sehingga tak pernah ditemukan?

Kembali ke cerita tentang kemiripan. Kali ini tentang payungku yang malang. Sebagai penghuni baru kota hujan, maka wajar saja mengikuti anjuran banyak orang : Dimanapun kamu berpijak, di situ payung harus selalu dijinjing.

Lalu kubawa payungku yang baru berumur seminggu (payungku yang sebelumnya gugur dalam bertugas ketika naik ojek) ke sebuah resepsi pernikahan teman kantor. Masih ingat benar, hari itu gerimis sudah menyambut ketika baru pertama keluar rumah. Ah, batikku yang sudah disetrika mulus dan wangi parfum-ku pasti tidak bakal pudar gara-gara gerimis. Ada payung yang selalu siaga!

Sesampainya di lokasi resepsi, kulihat seorang satpam sedang berjaga. Kursi di sebelahnya terdapat banyak payung diletakkan begitu saja. Kupikir ini pasti penitipan payung karena tidak mungkin para undangan membawa payungnya ke dalam ruangan. Kubilang ke satpam kalau payungku kutaruh di situ bertumpukan dengan payung-payung lainnya. Kemudian aku menuju ruangan resepsi, tempat dimana makanan enak telah menunggu. Eh, juga temenku yang lagi bahagia juga sudah menunggu koq.

Setelah acara selesai, kutemui satpam di pos yang tadi. Maksudku ya mau mengambil payungku.

Di sana kutemukan kursi yang kosong, tidak ada satupun payung ada di situ. Pak satpam juga kaget (koq bisa ya) kalo masih ada yang mencari payung. Katanya sih tadi payung-payung yang di atas kursi itu sudah diambil sama ibu-ibu. Halaah, payungku jangan-jangan mirip benar dengan payungnya ibu-ibu tadi?

Sejak itu aku males bawa payung kemana-mana.

4 responses to “Cerita tentang Kemiripan

  1. alhamdulillah payungku tetap setia menemaniku sejak kelas 2 SMU, brarti hampir 10 tahun….dan kalau ilang atau ketlingsut ane berusaha agar payung tersebut balik lagi ke ane dan ternyata memang ketemu&bersamaku lagi…mang dah jodoh kali ye…

  2. Pingback: A recap of feb article: Cigarette « Catatan Kecil·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s