Secangkir Susu Jahe


Pada suatu pagi selepas malam dicekam hujan, secangkir susu coklat hangat yang dicampur dengan satu sachet jahe instant telah tersedia di meja. Secangkir susu-jahe itu adalah teman, bersama dengan sebotol aqua kosong dan beberapa tumpukan buku yang sudah berhari-hari tak tersentuh.

Secangkir susu jahe itu, pada mulanya, ditemukan pada sebuah toko swalayan yang sama, pada kesempatan yang berbeda. Cangkir, susu dan jahe berdiri mematung di raknya masing-masing. Ia berderet bersama teman-temannya yang lain dan hanya mereka bertiga saja yang terpilih oleh pembeli yang sama.

Secangkir susu jahe itu juga berasal dari kumpulannya masing-masing. Dari pabrik gelas yang memproduksi ribuan cangkir tiap tahunnya, dari peternakan sapi yang jumlahnya tak terhitung dan dari perkebunan jahe yang sudah pasti banyak tanaman jahe hidup di sana. Mereka semula dari kumpulannya sendiri-sendiri, bersama teman-temannya dan kemudian hanya mereka saja yang bertemu dan bercampur di sini. Di mejaku, pada suatu pagi.

Secangkir susu jahe itu menghangatkan badan pada suatu pagi, sementara perjalanannya hingga sampai di meja ini seperti menghangatkan makna kehidupan saja. Berpindah dari satu komunitas dan kemudian bertemu dengan teman-teman yang baru, bercampur dan menemukan jalannya masing-masing. Dan pada akhirnya mereka bersatu untuk memberikan kehangatan pada suatu pagi yang dingin.~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s