Skripsiku bukan Skripsimu


Ada satu bagian yang menarik di sebuah tulisan rekan imber tentang skripsi. Bagian itu, kurang lebih, tentang ide skripsi yang musti disembunyikan baik-baik supaya mahasiswa yang lain tidak bisa mengcopy.Artinya, kalau nanti ide kita ketahuan mahasiswa lain yang sama-sama lagi skripsi, dan kemudian dicontek habis, maka siap-siaplah ketemu dengan gajahnya kecewa!

Mmm..padahal ada beberapa pandangan yang berbeda tentang skripsi. Ada pandangan yang menganggap kalau skripsi itu ibarat batu besar terakhir yang menghalangi kita keluar dari gua perkuliahan. Dengan menganggapnya sebagai batu penghalang, maka sebagian dari kita merasa bahwa itu harus segera dienyahkan secepatnya, bagaimanapun caranya dan entah seperti apa dampaknya. Makin lama kita berada di dalam gua, maka semakin tidak sehat. Titik.

Beberapa rekan mahasiswa yang seperti ini cenderung mengambil short cut : ambil tema skripsi yang gampang –entah disuka atau tidak–, dosen pembimbing tidak terlalu ribet, banyak waktu dan murah.

Mahasiswa yang seperti ini ketika berhasil menyelesaikan skripsinya sering menyebut dirinya lolos, bukan lulus. Entah lolos dari ketentuan batasan studi atau lolos dari ancaman embargo ekonomi yayasan ayah bunda.

Pandangan lain tentang skripsi menyangkut masalah kebanggaan. Rugi dong belajar bertahun-tahun, jauh dari kampung halaman, mahal..eh lulusnya koq biasa-biasa saja. Bikin keq sesuatu yang mengesankan. Begitu kira-kira pikiran mahasiswa yang pengin skripsinya agak lain.

Saya pernah menemui mahasiswa yang demikian. Ia ambil tema spesifik yang jarang, bahkan dengan menggunakan tools yang tidak diajarkan di tingkat sarjana. Dalam ujian pendadaran, dosen penguji-nya malah nampak bingung saking kompleksnya skripsi tersebut. Nah loh..

Dua pandangan tentang skripsi di atas mungkin sangat simpel. Anda bisa saja punya pandangan lain, dan berhak memilih yang lain pula. Idealnya, apa yang kita buat untuk skripsi itu menyenangkan, bermanfaat, terjangkau baik secara biaya maupun kapasitas dan tidak kelamaan.

Skripsi itu harus dibuat menyenangkan, karena pada tahap ini rawan sekali terjadinya stress. Banyak mahasiswa yang bergelar mahasiswa abadi, tertahan di pintu keluar gua perkualiahan dan tidak mampu mengatasi persoalan stress tersebut. Stress harus dikelola dengan tepat, kata psikolog.

Skripsi harus bermanfaat. Jelas dong ! dengan membuat daftar manfaat, maka kita akan termotivasi untuk menyelesaikannya. Buatlah yang sepanjang-panjangnya, dengan jangkuan manfaat dari orang tua sampai calon mertua, kalau perlu.

Terjangkau. Kalau kita merasa bisa dan yakin betul membuat skripsi yang beda, maka buat saja! Nggak perlu takut dicontek mahasiswa lain. Kalau dicontek, buat lagi yang lebih sulit, demikian seterusnya sampai tidak ada yang berani dan bisa menconteknya. Terjangkau biaya : coba tawarkan atau cari peluang riset dari pihak luar (lembaga penelitian, NGO atau swasta). Kalau mereka tertarik dan mau membiayai maka persoalan dana akan lebih mudah.

Tidak kelamaan. Kadang kita terlalu suka dengan tema skripsi kita, keasyikan sampai lupa kalau sedang skripsi. Padahal, skripsi ya skripsi, ada batasannya. Skripsi bukan tesis atau disertasi. Jadi buat apa lama-lama ?~

One response to “Skripsiku bukan Skripsimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s