Ekspor terus, padam terus


Ternyata benar masih ada kekhawatiran tentang pasokan batubara untuk pembangkit listrik. Hari ini (31/3), Kompas menginformasikan bagaimana PLN memiliki rencana yang mengnimplikasikan peningkatan pasokan batubara.

Begini rencananya. Sampai pada tahun 2010, dari berbagai pembangkit yang akan dibangun sebesar 15.000 MW, 7.000 MW berasal dari PLTU berbahan bakar batubara. Pemerintah kemudian meminta PLN mengganti sebagian pembangkit berbahan gas, sehingga PLTU nantinya akan menghasilkan 11.000 MW.

Dengan begitu, konsumsi konsumsi batubara diperkirakan juga akan meningkat. Sekarang saja konsumsinya berkisar 30 juta ton/tahun. Pada 2010 nanti menjadi 60 juta ton/tahun. Berikutnya, menjadi 90 juta ton/tahun pada 2015.

Bagaimana dengan produksi batubara nasional? Pada tahun 1994, masih tercatat 31,7 jtua ton/tahun. Sepuluh tahun kemudian, telah melonjak menjadi 132, 4 juta ton/tahun. Indonesia sendiri termasuk memiliki cadangan batubara ‘hanya’ 6,89 miliar ton (data 1993) atau kira-kira hanya 11 % dari potensi dunia.

Lalu kenapa perlu khawatir?

Pertama, sampai sekarang Indonesia belum memiliki mekanisme yang tegas untuk mewajibkan kebutuhan dalam negeri diprioritaskan. Istilahnya adalah domestic market obligation (DMO). Oleh karena itu jangan heran kalau sebagian besar produksi batubara nasional diekspor. Angka ekspor-nya bahkan mencapai 70%!

Kedua, pengembangan energi bersih dan atau terbarukan untuk kegiatan pembangkitan listrik kurang menggembirakan. Potensi yang banyak dan beragam yang di miliki negeri ini ternyata masih sulit untuk menjadi daya tarik investasi. Padahal kita memiliki panas bumi, sungai-sungai yang terus mengalir, sinar matahari sepanjang tahun, angin, ombak dll.

Yang kelihatan lambat juga tentang upaya substitusi dan atau kombinasi solar PLTD dengan minyak jarak. Sudah diketahui publik jika PLTD yang jumlahnya ribuan di luar pulau jawa itu menjadi burden finansial bagi PLN, maka mengupayakan substitsinya adalah hal yang paling logis. Apalagi subsitusi dengan bahan bakar yang lebih bersih dan terbarukan. Tidak jelas bagaimana upaya ini dilakukan oleh pemerintah atau penyedia listrik. Yang jelas, apabila masyarakat diberdayakan melalui kerjasama yang jelas dan adil, maka potensinya untuk pengembangan ekonomi sangat cerah.

Catatan berikutnya adalah, apabila pengembangan energi terbarukan menjadi prioritas maka konsumsi batubara akan bisa dikurangi. Tentu saja tanpa membuat kekhawatiran akan semakin sering padamnya listrik. Bandingkan dengan kondisi sekarang : sudah batubaranya diekspor, listrik masih sering padam pula. ~

One response to “Ekspor terus, padam terus

  1. Pingback: Batubara kita « Iip Al Banjary’s Blog·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s