Isu Kritis dalam Pengelolaan Batubara


Ada berbagai isu kritis dalam membahas pengelolaan batubara di Indonesia. Isu kritis tersebut antara lain, aktivitas pertambangan di wilayah-wilayah yang dilindungi, isu pengelolaan pertambangan dengan kesejahteraan masyarakat sekitar serta isu pemanfaatan hasil tambang batubara yang menyangkut kepentingan dalam negeri.Isu aktivitas pertambangan di wilayah-wilayah yang dilindungi, seperti hutan lindung telah menjadi isu nasional yang penting. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam isu ini adalah telah terjadinya perubahan politik yang menyebabkan kesepakatan antara pemerintah dengan pengelola pertambangan yang telah dibuat di masa lampu menjadi pusat perhatian banyak pihak.

Kegiatan pertambangan batubara juga bersinggungan erat dengan masalah kesejahteraan masyarakat sekitar. Seperti halnya dengan aktivitas eksploitasi di sumberdaya alam lainnya, masyarakat di sekitar lokasi sumberdaya alam seringkali menerima dampak yang tidak diharapkan atau tidak menerima manfaat yang optimal dari aktivitas eksploitasi tersebut. Masyarakat berhak mendapatkan manfaat yang layak karena keberadaan kekayaan tambang tersebut berada di wilayahnya.

Kedua isu kritis di atas merupakan bagian dari pengelolaan batubara di bagian hulu. Bagian hilir dari pengelolaan ini meyangkut bagaimana batubara dimanfaatkan.

Dari sisi pemanfaatan, hasil tambang batubara seharusnya mulai menjadi prioritas untuk memenuhi dan mengantisipasi kebutuhan dalam negeri. Di Indonesia, pemakaian batubara yang terbesar antara lain untuk kepentingan produksi energi baik industri maupun pembangkitan listrik di PLTU. Namun, fakta juga memperlihatkan kalau sebagian besar batubara Indonesia juga diekspor ke negara lain.

Pemanfaatan batubara untuk PLTU diprediksi akan semakin meningkat. Konsumsi listrik yang makin lama terus bertambah menyebabkan pembangunan pembangkit listrik juga bertambah.

Pilihan yang mudah memang batubara. Selain murah dibanding dengan BBM, Indonesia memiliki cadangan batubara terbukti yang memang banyak. Maka, tak heran apabila banyak investor asing tertarik untuk membangun pembangkit jenis PLTU, bahkan di dekat sumber batubara itu berada (mine mouth). Selain itu, merekapun sudah paham kalau Indonesia tidak mungkin membangun dengan dana sendiri, sementara kebutuhan pasokan listrik tetap harus dijaga.

Pemanfaatan batubara untuk PLTU ini akhirnya juga akan melahirkan isu kritis, yakni masalah pencemaran udara. Saat ini, Indonesia belum mampu menggunakan teknologi yang bisa mengurangi atau bahkan mencegah terbuangnya gas-gas efek rumah kaca ke atmosfier yang dihasilkan oleh PLTU. Dengan begitu, produksi gas efek rumah kaca dari pembangkit berbahan bakar batubara akan semakin meningkat di masa mendatang. Bagaimana Indonesia menyikapi hal ini?~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s