Dirty Cheap Energy


Judul ini diambil dari potongan publikasi milik sebuah lembaga riset energi internasional. Publikasi tersebut menyebutkan bagaimana prospek penggunaan batubara di dunia dan khususnya di Amerika.Disebutkan, penggunaan batubara di seluruh dunia diperkirakan akan terus meningkat. Pada tahun 2025 mendatang jumlahnya bahkan akan meningkat sebesar 43,9%, dihitung dari tahun 2001.

Apakah hal ini suatu pertanda yang mengkhawatirkan? Tentu saja iya. Batubara yang selama ini paling banyak digunakan, baik untuk briket maupun bahan bakar di pembangkit listrik, menghasilkan asap yang berbahaya. Asap tersebut mengandung partikel-partikel lembut yang terdiri antara lain dari oksida nitrogen dan sulfur. Jenis gas ini tentu tidak baik bagi kesehatan manusia. Asap pembakaran batubara juga mengandung karbondioksida. Jenis gas inilah yang dituding paling bertanggungjawab atas terjadinya pemanasan global.

Atas alasan lingkungan itulah, pada tahun 1990-an Amerika sudah mulai mengurangi penggunaan batubara di kegiatan pembangkitan listrik. Sebagai alternatifnya adalah gas alam yang emisinya memang bersih. Nah, karena permintaan gas alam ini terus meningkat ternyata membuat harga gas merambat naik, bahkansampai dua kalipat sejak 1999. Ongkos produksi penyediaan listrikpun melonjak.

Pemikiran kembali kepada batubara akhirnya timbul. Pemikiran ini dilandasi dengan fakta bahwa persediaan batubara yang ternyata masih sangat melimpah. Harganyapun relatif murah (dibandingkan dengan gas, tentunya). Namun, bagaimana mengurangi dampak lingkungan dari pembakaran batubara tersebut?

Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah dengan mengubah batubara tersebut menjadi gas sintetis yang bisa menggerakan turbin listrik. Dengan mengubahnya menjadi bentuk gas, maka partikulat seperti karbon dioksida akan mudah ditangkap. Kalau sudah ditangkap, maka karbondioksida tersebut bisa saja disuntik ke semacam reservoir permanen di perut bumi sehingga tidak terlepas ke atmosfier. Mereka menyebut teknologi ini dengan Integrated Gasification Combined-Cycle (IGCC).

Mmm..bagaimana ya dengan Indonesia? Menurut beberapa sumber, Indonesia itu eksportir batubara terbesar kedua setelah Australia. Cadangannya, kira-kira masih cukup untuk 150-an tahun kedepan. Biar begitu, sebagian besar pembangkit listrik yang ada ternyata didominasi oleh pembangkit tenaga diesel yang harga bahan bakarnya sangat mahal. Makanya, jangan heran kalau PLN masih rugi sampai sekarang.~

One response to “Dirty Cheap Energy

  1. Kenapa kita eksportir nomer 2 di dunia?

    karena dengan bodohnya justru kita tidak menggunakan batubara yg banyak terdapat di indonesia

    Cadangan (dan produksi) batubara indonesia sendiri sebenernya tidaklah terlalu besar (hanya 5000 juta ton, bandingkan dengan USA yg mencapai 200.000 juta ton)

    tapi USA menggunakan batubaranya untuk keperluan sendiri, sedangkan kita justru menjualnya dan membeli minyak untuk membangkitkan listrik hihihihi…..menggelikan

    padahal batubara teknologi konvensional paling murah (tapi paling mencemari udara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s