Tentang Pekerjaan (2)


Seorang teman pernah berkeinginan bisa punya istri seorang PNS. Mmm, katanya pekerjaan sebagai PNS itu lebih santai dan artinya lebih punya banyak waktu.


Bayanganku kemudian melayang ke kantor-kantor pemerintah, seperti kelurahan, samsat, kantor pemda atau kantor dinas tertentu di daerah. Di sana katanya sering ditemukan pegawai yang lagi asyik nge-gossip, baca koran atau menghilang dari ruangannya –di jam kantor. Itukah yang disebut sebagai pekerjaan “lebih santai” yang dimaksud temenku itu?

Dulu, sewaktu mengurus SIM di kota kelahiranku rasanya tidak begitu. Coba bayangkan, kantor samsat yang tidak seberapa besar itu disesaki dengan ratusan orang yang punya pikiran sama, yakni mengurus SIM. Bangku panjang yang berderet sudah penuh diduduki, sampai-sampai sebagian besar yang lain rela duduk di bawah. Dan, Anda tahu berapa pegawai samsat yang melayani? Tidak sampai 15-an orang saja. Tentu ini bukan pekerjaan yang santai bukan?

Seorang rekan yang baru kembali dari kantor imigrasi, untuk mengurus paspor, mengeluh. Seharian, dari pagi sampai sore, waktunya habis untuk menunggu. Proses setiap tahapan, seperti foto atau tandatangan sebenarnya sih tidak lama. Tahapan wawancaranya saja kira-kira hanya lima menit. Masalahnya ya itu, yang mengurus paspor ternyata juga tidak sendirian, tapi banyak. Bayangkan kalau Anda menjadi petugas imigrasi itu, bagaimana bisa santai?

Sekarang, menjadi seorang PNS itu tidak gampang. Bukan saja tentang tes-nya yang bagi sebagian orang itu sangat sulit. Tapi ketika sudah menjadi pegawai, maka ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan kultur yang baru. Kalau Anda terbiasa dengan lingkungan mahasiswa yang idealis, sepertinya harus membuat persiapan mental yang baik ketika sudah jadi pegawai. Syukur-syukur hasil interaksi dengan lingkungan yang baru menghasilkan individu pegawai yang cemerlang. Bisa ‘kan?

Menjadi pegawai negeri bagi sebagian masyarakat kita adalah ladang amal yang cerah. Di tengah arus gaya hidup masyarakat yang cenderung hedon, setiap orang akan selalu punya pilihan : mengikuti arus tersebut atau tidak. Tidak semua pegawai mengikuti pilihan kedua, ada juga yang dengan sadar mengikuti pilihan pertama. Pilih yang pertama atau kedua silahkan saja : asal jangan sampai mengganggu tugas-tugas kantor, tidak menggunakan uang rakyat atau fasilitas negara dan bertanggungjawab dengan implikasinya.~

One response to “Tentang Pekerjaan (2)

  1. isi comment ah…

    Aduh pleaseeeee kalo emang punya kapasitas gak usahlah bercita-cita jadi pns kantoran… serba salah… punya rejeki lebih malah dibilang korupsi, padahal sapa juga Muslim yang mo hidup susah… Melarat itu dekat dengan kemungkaran kok…

    Yang pasti, jadi pns itu harus ekstra sabar and pastinya ekstra kerja keras kalo mo hidup cukup (cukup bisa ngasi makan anak, cukup bisa nyekolahin anak, cukup bisa bawa anak rekreasi)… hehehe… 2nd thought, jadi apapun memang harus sabar and kerja keras ya?!

    Salam kenal ya…
    http://one-at-a-time.blogspot.com/2005_08_01_one-at-a-time_archive.html

    *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s