Duku Itu..


Ini adalah pengalaman kesekian berinteraksi dengan pedagang buah. Kadang menggelikan, tapi kadang pula menyebalkan. Maunya dapat menikmati buah kesukaan, tapi lah koq dapat buahnya yang jelek-jelek. Hiks

Pelajaran pertama dari interaksi pedagang buah adalah ketelitian. Ini termasuk ketelitian tempat dan waktu. Lihat baik-baik apakah buah yang ditempatkan paling dekat dengan calon pembeli sama dengan buah yang nantinya akan dibungkus itu.

Untuk pelajaran ini, coba Anda cicipi buah dari kios-kios di Terowongan Cawang. Kalau Anda bukan pembeli profesional, ada baiknya pilih buah yang sukai dan bungkuslah sendiri. Bahkan termasuk buah semacam duku yang jumlahnya bisa sampai puluhan dalam satu kilo.

Saran ini tentu berdasar pengalaman. Seorang pembeli amatir, pada suatu pagi, melintas di terowongan tersebut. Pandangannya menabrak kios yang menjajakan berbagai buah. Duku pada saat itu ternyata paling ramai. Sekilonya hanya delapan ribu dan mereka klaim sebagai duku palembang. Ah, si pembeli tentu tidak bisa membedakan mana yang dari palembang atau dari kebun di pinggiran Bogor.

Ketika matanya melihat ternyata duku-duku itu besar, dia langsung pesan dua kilo. Lumayan buat oleh-oleh keponakannya di Bogor nanti. Setelah bayar, dia langsung bergegas menuju bis-bis shutle di ujung sana.

Setelah beberapa menit bis meluncur, tiba-tiba rasa penasarannya muncul. Dibukanya kresek hitam yang kelihatan gede itu. Nahhh…duku-duku itu ternyata tidak sama dengan yang dilihatnya pertama tadi. Ukurannya lebih kecil.

Wah..ini dia kalau beli buah tidak pakai teliti. Apalagi kalau pembelinya cowok. Hehehe, dia jadi ingat beberapa waktu yang lalu ketika membeli sekilo jeruk di suatu perempatan yang ramai. Waktu itu memang malam, ketika jeruk yang ia pilih ternyata kelihatan lebih baik di bawah neon kios tersebut. Setelah sampai di rumah, ternyata isinya sudah layu dan masam.

Pelajaran lain, sebenarnya lebih kompleks. Tidak hanya masalah atitude si pedagang dan kapasitas pembeli, tapi juga tentang konstelasi perdagangan global mutakhir. Sebagian dari kita tentu khawatir tidak bisa mengembangkan potensi alam sendiri, pada saat yang sama konsumen ternyata lebih mudah mendapatkan produk-produk pertanian dari luar negeri.

Pilihan ideal, tentu memilih produk dalam negeri, dengan kualitas dan preferensi tepat. Hanya, bagaimana dengan atitude pedagangnya dalam memuaskan konsumen?

Hmm…sepertinya duku-duku yang kecil itu sudah bisa menjawab.~ (-a-)

One response to “Duku Itu..

  1. Pingback: A recap of feb article: Cigarette « Catatan Kecil·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s